Showing posts with label Alquran dan Astronomi. Show all posts
Showing posts with label Alquran dan Astronomi. Show all posts

Monday, March 26, 2018

Astronomi Alquran (8) Alquran Sebut Komposisi Kimia Bintang

Astronomi Alquran (8) Alquran Sebut Komposisi Kimia Bintang

Alquran menyimpan rahasia saintis yang  begitu luas dan menakjubkan. Masih membahas tentang penciptaan alam semesta yang kita yakini adalah ciptaan Allah, dalam Alquran disebutkan bahwa segala sesuatu bersumber dari makhluk Allah  yang sangat unik, yakni "air". Hal ini disebutkan dalam QS. Al-Anbiya' ayat 30

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَنَّ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَآءِ كُلَّ شَىْءٍ حَىٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

"Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?" (QS. Al-Anbiya': 30)

Perhatikanlah bunyi ayat di atas yang menyebut peranan air. Allah mengatakan bahwa air adalah sumber segala makhluk hidup. Tetapi, perhatikan pula, makhluk hidup yang dimaksud Allah tidak disebut dengan spesifik dalam ayat di atas. Tidak ada penyebutan manusia, binatang, ataupun tumbuhan. Sebaliknya, Allah menyebut langit dan bumi. Lalu, seluruh makhluk hidup diciptakan dari air. 
Air mengandung banyak hidrogen. Hidrogen (bahasa Latin: hydrogenium, dari bahasa Yunani: hydro: air, genes: membentuk) adalah unsur kimia pada tabel periodik yang memiliki simbol H dan nomor atom 1. Perlu diketahui di sini, bintang juga tercipta dari hidrogen. Saat terbentuk, bintang-bintang di galaksi bima sakti massanya terdiri dari sekitar 71% hidrogen dan 27% helium, dan sisanya sedikit unsur-unsur yang lebih berat. Biasanya porsi unsur-unsur berat diketahui dengan mengukur jumlah muatan besi yang terkandung dalam atmosfer bintang, sebab besi adalah unsur yang umum dan garis spektrum serapannya relatif mudah untuk dihirung. Karena awan molekul tempat bintang terbentuk terus menerus diperkaya dengan unsur-unsur yang lebih berat, pengukuran terhadap komposisi kimia sebuah bintang dapat digunakan untuk menentukan umurnya. Porsi unsur-unsur yang lebih berat juga dapat dijadikan sebagai petunjuk apakah sebuah bintang memiliki sistem planet atau tidak. 
Bintang dengan kandungan besi terendah yang pernah diukur adalah bintang katai HE1327-2326, dengan kandungan besi hanya 1/200.000 dari kandungan besi matahari. Sebaliknya, bintang kaya logam Leonis, memiliki kandungan yang hampir dua kali lipat milik matahari, sedang bintang berplanet 14 Herculis, memiliki kandungan yang hampir tiga kali lipat milik matahari. Ada juga bintang yang komposisi kimianya ganjil, yang menunjukkan kelimpahan luar biasa unsur-unsur tertentu dalam spektrumnya; khususnya krom dan logam tanah jarang.

Wallahu A'lam

Wednesday, February 21, 2018

Astronomi Alquran (7) Luminositas Bintang Tersirat dalam Ath-Thariq

Astronomi Alquran (7) Luminositas Bintang Tersirat dalam Ath-Thariq

Ketika malam, lihatlah ke langit dan kamu akan temukan bintang memiliki kecemerlangan yang berbeda. Apakah karena ukuran bintang tersebut begitu besarnya hingga "kelap-kelip" bintang menjadi sangat terang? Ada 2 hal yang mempengaruhi kecemerlangan bintang itu yaitu luminositas dan jarak. Kalau  jarak cahaya tentu kita sudah maklum dapat mempengaruhi terang-gelap obyek, lalu apa itu luminositas?
Di dalam astronomi luminositas berarti jumlah energi yang dipancarkan sebuah benda ke segala arah per satuan waktu. Luminositas dinyatakan dalam watt atau erg per detik dalam satuan internasional (SI). 
Dan tahukah anda bahwa Alquran telah menyiratkan hal ini dalam QS At-Thoriq ayat 3  yang berbunyi:
النَّجْمُ الثَّاقِبُ
Yaitu bintang yang bersinar tajam," (Ath-Thariq: 3)

Berdasarkan ayat di atas, cahaya bintang dapat menembus, baik menembus kegelapan, yang berarti menerangi benda maupun ruang gelap, atau menembus materi, terlebih materi yang transparan. Dengan memberikan penjelasan detail semacam iru, secara tidak langsung, Al-Qur'an sudah mengawali bahasan tentang luminositas, yakni energi yang dimuntahkan dan dipancarkan ke berbagai penjuru. Di dalam astronomi, luminositas berarti jumlah energi yang dipancarkan sebuah benda ke segala arah per satuan waktu. Luminositas dinyatakan dalam watt atau erg per detik dalam satuan internasional (SI).
Luminositas bintang adalah jumlah cahaya dan bentuk energi radiasi lainnya yang dipancarkan oleh bintang per satuan waktu. Luminositas bintang diukur dalam satuan daya (watt). Luminositas bintang ditentukan oleh ukuran jari-jari dan suhu permukaannya. Dengan menganggap bahwa sebuah bintang adalah benda hitam sempurna, maka luminositasnya adalah: 
Keterangan:
L adalah luminositas,
o adalah tetapan Stefan-Boltzmann (bisa dilihat di tabel konstanta),
R adalah jari-jari area bintang dan
T adalah temperatur efektif bintang.

Jika jarak bintang dapat diketahui, misalnya dengan menggunakan metode paralaks, luminositas sebuah bintang dapat ditentukan melalui hubungan 
4nd2
dengan £ adalah fluks pancaran, L adalah luminositas dan d adalah jarak bintang ke pengamat. 
Namun banyak bintang yang memancarkan cahaya dengan fluks (jumlah energi yang dipancarkan persatuan luas) yang tidak seragam di seluruh permukaannya. Bintang vega yang ber-putar sangat cepat, misalnya, memiliki fluks energi yang lebih tinggi pada kutub-kutub-nya dibandingkan dengan ekuatornya. Noda-noda di permukaan bintang yang memiliki suhu dan luminositas yang lebih rendah dari rata-rata disebut dengan bintik bintang. Bintang katai yang kecil, seperti matahari, umumnya memiliki permukaan yang cukup mulus dengan hanya sedikit bintik bintang. Bintang-bintang raksasa yang lebih besar memiliki bintik bintang yang lebih besar dan lebih kelihatan, dan bintang-bintang ini juga menunjukkan penggelapan pinggiran yang lebih kuat. Penggelapan pinggiran adalah penurunan tingkat kecerahan cahaya pada cakram bintang mendekati daerah pinggirannya. Bintang-bintang suar katai merah seperti UV Ceti dapat memiliki bintik bintang yang menonjol di permukaannya.

Wallahu A'lam

Monday, February 19, 2018

Astronomi Alquran (6) Radiasi Bintang Tersirat di Alquran

Astronomi Alquran (6) Radiasi Bintang Tersirat di Alquran

Bintang di angkasa seperti halnya matahari memiliki radiasi (pancaran). Dalam fisika, radiasi mendeskripsikan setiap proses di mana energi bergerak melalui media atau melalui ruang, dan akhirnya diserap oleh benda lain. Orang awam sering menghubungkan kata radiasi ionisasi (misalnya, sebagaimana terjadi pada senjata nuklir, reaktor nuklir, dan zat radioaktif), tetapi juga dapat merujuk kepada radiasi elektromagnetik (yaitu, gelombang radio, cahaya inframerah, cahaya tampak, sinar ultra violet, dan X-ray), radiasi akustik, atau unruk proses lain yang lebih jelas.
Energi radiasi memancar (yaitu, bergerak ke luar dalam garis lurus ke segala arah) dari suatu sumber. Geometri ini secara alami mengarah pada sistem pengukuran dan unit fisik yang sama berlaku unruk semua jenis radiasi.
Siapa sangka bahwa Alquran telah engisaratkan adanya bintang yang dapat memancarakan radiasi. Mari kita telaah QS. Al-Mulk ayat 5:
 
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَآءَ الدُّنْيَا بِمَصٰبِيحَ وَجَعَلْنٰهَا رُجُومًا لِّلشَّيٰطِينِ ۖ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيْرِ

"Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang dan Kami jadikannya (bintang-bintang itu) sebagai alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka azab neraka yang menyala-nyala." (Al-Mulk: 5)

Dalam ayat di atas, Allah menegaskan bahwa
  • bintang diciptakan unuk menghias langit (luar angkasa) dengan mengeluarkan cahaya bak lampu (مَصٰبِيحَ) yang merupakan bentuk plural/ jamak dari مصباح 
  • Selain mengeluarkan cahaya yang berfungsi sebagai penerang, ayat tersebut menjelaskan bintang yang berfungsi untuk melempari setan yang ingin naik ke langit. Ulama menerangkan bahwa setan membantu dukun untuk mencuri catatan di lauhil mahfudz لوح المحفوظ untuk mengetahui nasib seseorang sebagai usaha menyesatkan manusia. Namun hal tersebut tak pernah berhasil karena dihalangi oleh bintang yang dilemparkan dan mengeluarkan semburan radiasi. Sejatinya, karakter-karakter bintang ini adalah petunjuk saintis tentang radiasi bintang.
Secara saintis hal tersebut telah terbukti bahwa bintang tidaklah bergerak namun juga memancarkan radiasi. Energi yang dihasilkan oleh bintang dari fusi nuklir memancar ke ruang angkasa dalam bentuk radiasi elektromagnetik dan radiasi partikel. Radiasi partikel yang dipancarkan bintang terwujud dalam bentuk angin bintang, yang mengalirkan proton bebas, partikel alfa bermuatan listrik, dan partikel beta dari lapisan luar bintang. Terdapat juga aliran tetap neutrino yang berasal dari inti bintang, walaupun neutrino-neutrino ini hampir tidak bermassa.
Bintang bersinar sangat terang akibat produksi energi pada intinya, menggabungkan dua atau lebih inti atom dan membentuk inti atom tunggal unsure yang lebih berat serta melepaskan foton sinar gama dalam prosesnya. Begitu energi luminositasnya ini mencapai lapisan luar bintang, energi ini berubah ke dalam bentuk lain yaitu energi elektromagnetik yang berfrekuensi lebih rendah, misalnya cahaya tampak.
Warna dari cahaya bintang juga dipengaruhi dari radiasi yang dilepaskan. Secara fisika, warna bintang ditentukan oleh dengan frekuensi cahaya tampak-nya yang paling kuat, tergantung pada suhu lapisan luar bintang, termasuk fotosfernya.
Selain cahaya tampak, bintang juga memancarkan bentuk-bentuk lain radiasi elektromagnetik yang tidak kasat mata. Sebenarnya radiasi elektromagnetik bintang meliputi keseluruhan spektrum elektromagnetik, dari yang terpanjang gelombangnya yaitu gelombang radio, ke inframerah, cahaya tampak, ultraungu, hingga sinar X dan sinar gama yang panjang gelombangnya paling pendek. Jika dilihat dari jumlah keseluruhan energi yang dipancarkan oleh sebuah bintang, tidak semua komponen radiasi elektromagnetik bintang memiliki jumlah yang signifikan, namun seluruh frekuensi tersebut memberikan wawasan tentang fisik bintang.
Dengan menggunakan spectrum bintang, astronom dapat menentukan suhu permukaan, gravitasi permukaan, metalisitas, dan kecepatan rotasi sebuah bintang. Jika jarak sebuah bintang diketahui, misalnya dengan mengukur paralaksnya, maka dapat dihitung. Massa, jari-jari, gravitasi permukaan dan periode rotasi dapat diperkirakan dengan berdasarkan model bintang. (Massa bintang-bintang dalam sistem biner dapat dihitung mengukur jarak dan kecepatan orbitnya. Efek lensa-mikro gravitasi dipergunakan untuk mengukur massa bintang tunggal). Dengan menggunakan parameter-parameter ini, astronom juga dapat memperkirakan umur sebuah bintang.

Wallahu A'lam

Saturday, February 17, 2018

Astronomi Alquran (5) Allah Sang Pencipta Bintang

Astronomi Alquran (5) Allah Sang Pencipta Bintang

Dalam kajian Ilmu Fisika, bahasan tentang bintang ini tidak sederhana. Bintang merupakan benda langit yang memancarkan cahaya. Terdapat bintang semu dan bintang nyata. Bintang semu adalah bintang yang tidak menghasilkan cahaya sendiri, tetapi memantulkan cahaya yang diterima dari bintang lain. Bintang nyata adalah bintang yang menghasilkan cahaya sendiri. Secara umum sebutan bintang adalah objek luar angkasa yang menghasilkan cahaya sendiri (bintang nyata).
Bintang dan planet terbentuk melalui pemadatan gas dan debu di angkasa yang disebut nebula. Karenanya, nebula sebagai sumber dari benda-benda angkasa, memiliki peran terpenting di alam semesta. Nebula tidak memiliki cahaya seperti bintang-bintang, sehingga  sangat sulit  untuk melihatnya. Mereka  terlihat hanya jika gas di dalamnya keluar memancarkan cahaya atau jika mereka memantulkan  cahaya  bintang lain. Kita juga dapat melihatnya ketika mereka melewati suatu sumber cahaya.
Bintang memancarkan panas, cahaya, dan energi. Selain dari bintang-bintang berukuran kecil, terdapat pula bintang yang berukuran sangat besar. Ternyata matahari bukanlah sebuah bintang besar; masih banyak sekali bintang yang lebih besar darinya. Kendati bukan makhluk hidup, namun ia seperti makhluk yang dilahirkan, hidup, dan kemudian mati. 
Sudah maklum adanya bahwa bintang-bintang terlahir di dalam nebula. Kehidupan sebuah bintang besar seringkali berakhir dengan sebuah ledakan dahsyat, bahan penyusunnya berhamburan ke segala arah. Dari serpihan-serpihan itu, akan muncul bagian-bagian yang akan membentuk bintang atau planet yang lebih kecil. Matahari dan planet-planet di dalam tata surya termasuk bumi ini terbentuk setelah adanya ledakan dahsyat sebuah bintang raksasa di masa lalu. 
Lantas siapakah yang mengatur bintang untuk bersinar dan meredup mati? Tentulah Allah SWT yang  menciptakan bintang tak terhitung jumlahnya dan begitu indah jika kita memandangnya dari bumi. Allah berfirman dalam QS. Al-Hijr ayat  16-18:

وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِى السَّمَآءِ بُرُوجًا وَزَيَّنّٰهَا لِلنّٰظِرِينَ
وَحَفِظْنٰهَا مِن كُلِّ شَيْطٰنٍ رَّجِيمٍ
إِلَّا مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ فَأَتْبَعَهُۥ شِهَابٌ مُّبِينٌ
"Dan sungguh, Kami telah menciptakan gugusan bintang di langit dan menjadikannya terasa indah bagi orangyang memandang(nya), dan Kami menjaganya dari setiap (gangguan) setan yang terkutuk, kecuali (setan) yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dikejar oleh semburan api yang terang." (Al-Hijr: 16-18)

Rasulullah saw pernah bersabda diriwayatkan dari Abu Bakr bin Abi Syaibah, Ishaq bin Ibrahim, dan Abdullah bin Umar bin Aban; semuanya dari Husain bin AH Al-Ja'fi, dari Mujammi' bin Yahya, dari Said bin Abu Burdah, dari ayahnya (Abu Burdah) tentang karakter, manfaat, dan fungsi bintang adalah sebagai berikut: 
Kami shalat Magrib bersama Rasulullah SAW, kemudian kami bertanya: "seandainya kita duduk-duduk dan menunggu sampai shalat Isya bersama beliau lagi." (perawi mengatakan) "kami pun duduk-duduk" (menunggu Isya'). 
Nabi Muhammad SAW lantas keluar menemui kami dan berkata: "kalian disini?" Kami menjawab, "Wahai Rasulullah, kami shalat Magrib bersamamu." Kemudian kami katakan, "Kami tetap duduk-duduk (di masjid) agar kami bisa shalat Isya' bersama Anda." Beliau bersabda: "Bagus kalian!" atau "benar kalian!"
Perawi menambahkan: kemudian Nabi SAW menengadahkan kepala ke langit dan beliau memang sering menengadahkan kepala ke langit. Beliau lantas bersabda: "Bintang-bintang adalah penjaga keamanan (stabilisator) bagi langit; jika bintang mati, maka datanglah pada langit sesuatu yang mengancamnya. Dan aku adalah pengaman bagi sahabatku; jika aku mati, maka datanglah kepada para sahabat sesuatu yang mengancam mereka. Sahabatku adalah pengaman umatku; jika mereka mati, maka datanglah kepada umatku sesuatu yang mengancam mereka." [HR.Muslim]
Bintang-bintang telah menjadi bagian dari setiap kebudayaan. Bintang-bintang digunakan dalam praktik-praktik keagamaan, dalam navigasi, dan bercocok tanam. Kalender Gregorian adalah kalender yang digunakan hampir di semua bagian dunia. Kalender ini adalah kalender matahari yang cara perhitungannya berdasarkan pada posisi bumi relatif terhadap bintang terdekat, yaitu matahari. 
Konsep rasi bintang telah dikenal sejak zaman Babilonia. Para pengamat langit kuno membayangkan pola tertentu terbentuk oleh susunan bintang yang menonjol, dan menghubungkannya dengan aspek tertentu dari alam atau mitologi mereka. Dua belas dari susunan ini terletak pada garis ekliptika dan menjadi dasar bagi astrologi. Banyak pula bintang-bintang individu yang menonjol diberi nama tersendiri, khususnya dengan penamaan Arab atau Latin. 
Jika anda mempelajari tentang perbintangan, maka sejatinya anda telah mengenal penciptannya sebagai usaha untuk ma'rifat kepada-Nya. Semoga kita semua senantiasa mendapatkan petunjuk dan keutamaan dari-Nya sang pencipta bumi, langit dan seisinya. Amin

Wallahu A'lam

Thursday, February 8, 2018

Astronomi Alquran (4) Gravitasi Membentuk Struktur Galaksi

Astronomi Alquran (4) Gravitasi Membentuk Struktur Galaksi

Alquran menyimpan mukjizat pengetahuan yang teramat luas bagi Sains. Dalam Alquran Allah menyebutkan salah satu fenomena yang dialami oleh Isaac Newton sebelum mencetuskan teori gravitasinya, yakni Hukum Gravitasi. Melalui tulisannya di journal "Philosophiae Naturalis Principia Mathematica" pada tanggal 5 Juli 1687, ia menjelaskan bahwa di dunia ini dan alam yang lebih luas lagi terdapat gaya tarik-menarik yang terjadi antara semua partikel yang mempunyai massa di alam semesta. 
Mari kita pahami ayat 59 dari Surat Al-An'am yang berbunyi:
وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِى ظُلُمٰتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتٰبٍ مُّبِينٍ

"Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya, tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh mahfuz)." (Al-An'am: 59) 
Tiada daun yang gugur ke bawah yang terlewat dari sifat علم ilmu-Nya. Hal ini menyinggung prinsip Hukum Newton. Gravitasi bumi adalah bumi yang memiliki massa yang sangat besar menghasilkan gaya gravitasi yang sangat besar untuk menarik benda-benda di sekitarnya, termasuk makhluk hidup, dan benda-benda yang ada di bumi. Tidak hanya bumi, gravitasi juga ada pada benda-benda angkasa yang sangat besar. 
Survei terhadap langit jauh menunjukkan bahwa galaksi sering kali ditemukan relatif berdekatan dengan galaksi lain. Galaksi terasing yang selama satu miliar tahun terakhir tidak berinteraksi secara signifikan dengan galaksi lain yang bermassa sebanding, relatif langka. Hanya sekitar 5% dari galaksi yang disurvei ditemukan benar-benar terpencil. Namun demikian, formasi terpencil ini mungkin pernah berinteraksi atau bahkan berga-bung dengan galaksi lain di masa lalu, dan mungkin masih diedari oleh beberapa galaksi satelit yang lebih kecil. Galaksi terpencil bisa menghasilkan bintang dengan laju yang jauh di atas normal, karena gas dalam galaksi yang demikian tidak terlucuti oleh gravitasi galaksi lain. 
Mari ulas prinsip dalam Hukum Hubble, bahwa dalam skala terbesarnya, alam semesta ini terus mengembang, mengakibatkan jarak antara tiap galaksi rata-rata bertambah. Hubungan antar galaksi dapat menghambat pengembangan ini dalam skala lokal melalui tarikan gravitasi timbal balik mereka. Hubungan ini terbentuk di awal alam semesta, saat gumpalan materi gelap tiap galaksi mena-rik galaksinya masing-masing untuk saling mendekat. Kelompok-kelompok galaksi yang berdekatan kemudian bergabung untuk membentuk gugus-gugus berskala lebih besar. Proses penggabungan yang berlangsung (serta aliran gas yang tertarik) memanaskan gas antar galaksi dalam gugus galaksi ke suhu yang sangat tinggi, mencapai 30-100 jutaderajat celsius. Sekitar 70-80% massa sebuah gugus galaksi berada dalam bentuk materi gelap, sedang 10-30% terdiri dari gas panas ini dan beberapa persen sisanya dalam bentuk galaksi. 
Kebanyakan galaksi di alam semesta terikat secara gravitasi ke sejumlah galaksi lain. Hal ini menciptakan sebuah hierarki yang berbentuk seperti fraktal dari strukrur-struktur alam semesta, dengan gabungan terkecil dinamakan kelompok galaksi. Kelompok galaksi adalah jenis kumpulan galaksi yang paling umum, serta kelompok-kelompok tersebut mengan-dung sebagian besar galaksi (serta sebagian besar massa barionik) di Alam Semesta. Untuk tetap terikat secara gravitasi dalam kelompok yang seperti itu, masing-masing galaksi anggota harus memiliki kecepatan yang cukup rendah untuk mencegahnya terlepas (lihat teorema Virial). Namun, jika energi kinetik tidak mencukupi, sebuah kelompok galaksi dapat berubah menjadi kelompok dengan jumlah galaksi lebih sedikit dalam penggabungan galaksi. 
Struktur yang lebih besar, berisi ribuan galaksi yang berkumpul dalam suatu dae-rah yang panjangnya beberapa megaparsec, disebut gugus galaksi. Gugus galaksi se-ring kali didominasi oleh sebuah galaksi eliptis berukuran raksasa, yang dapat dike-nali sebagai galaksi paling terang dalam gugus tersebut. Galaksi ini dari waktu ke waktu dengan gaya pasang surut gravitasi akan menghancurkan galaksi-galaksi satelitnya dan menyerap mereka ke dalam dirinya sendiri. 
Gugus raksasa (super cluster) berisi puluhan ribu galaksi, yang dapat berupa gugus galaksi, kelompok galaksi atau kadang-kadang galaksi tersendiri. Dalam skala gugus raksasa, galaksi tersusun dalam lapisan-lapisan dan untaian-untaian yang mengelilingi sebuah kehampaan yang luas. Di atas skala ini, alam semesta tampak sama di semua arah (isotropis dan homogen). 
Galaksi bima sakti sendiri merupakan anggota kelompok galaksi yang disebut Kelompok Lokal (Local Group); sebuah kelompok galaksi yang relatif kecil dan memiliki diameter sekitar satu megaparsec. Galaksi bima sakti dan Andromeda adalah dua galaksi paling terang dalam kelompok ini; kebanyakan galaksi anggota lainnya merupakan galaksi katai satelit dari kedua galaksi. Kelompok Lokal sendiri merupakan bagian dari sebuah struktur seperti awan yang berada dalam gugus raksasa Virgo (Virgo super cluster), sebuah struktur luas berukuran besar dari kelompok-kelompok dan gugus-gugus galaksi yang terpusat pada gugus Virgo.

Wallahu A'lam